Secara etimologi, kurikulum berasal
dari bahasa Yunani, yaitu curir yang berarti berlari dan curere
yang berarti tempat berpacu. Dengan demikian, istilah kurikulum berasal dari
dunia olahraga pada zaman Romawi kuno di Yunani, yang mengandung pengertian
jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish.
Selanjutnya, kurikulum ini digunakan dalam dunia pendidikan dan mengalami
perubahan arti sesuai dengan perkembangan dan dinamika yang ada pada dunia
pendidikan.
Secara garis besar kurikulum dapat
diartikan sebagai suatu program yang direncanakan dan dilaksanakan untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu. Akan tetapi, ada juga yang berpendapat
bahwa kurikulum tidak hanya mencakup hal-hal yang direncanakan, tetapi juga
mencakup hal-hal yang tidak direncanakan, yaitu apa yang disebut dengan The Hidden Curriculum atau kurikulum
tersembunyi.
Pengembangan kurikulum pada
hakikatnya merupakan pengembangan komponen-komponen kurikulum yang membentuk
sistem kurikulum itu sendiri, yaitu komponen tujuan, bahan, metode, peserta
didik, pendidik, media, sumber belajar, dan lain sebagainya
Peserta didik kadang tidak mendapat pelajaran
yang tidak direncanakan sebelumnya, seperti metode belajar yang dikembangkan
sendiri agar dapat memahami pengetahuan yang ia peroleh, atau memperoleh
pelajaran baru selain dari yang telah "direncanakan" dalam kurikulum
sebelumnya.
Dalam homeschooling, kemungkinan the hidden curriculum lebih sering
terjadi dibandingkan dalam sekolah formal. Ini dikarenakan homeschooler lebih
bebas berekspresi dibandingkan dengan peserta didik pada sekolah formal. Ada
beberapa prinsip umum dalam pengembangan kurikulum yang ditawarkan oleh Nana
Syaodih (2005: 150-151),
1.
Prinsip Relevansi. Ada dua macam
relevansi yaitu relevansi ke luar dan ke dalam kurikulum sendiri. Relevansi ke
luar maksudnya tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum
hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan, dan pengembanan masyarakat.
Kurikulum menyiapkan peserta didik untuk bisa hidup dan bekerja dalam
masyarakat. Kurikulum hendaknya mempersiapkan peserta didik untuk tugas
tersebut. Sebaliknya, relevansi di dalam kurikulum itu sendiri, yaitu ada
kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antara
tujuan, isi, proses belajar, dan penilaian.
2.
Prinsip Fleksibilitas. Kurikulum
hendaknya memiliki sifat lentur atau fleksibel. Kurikulum mempersiapkan anak
untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang. Kurikulum yang baik adalah
kurikulum yang berisi hal-hal yang solid, tetapi dalam pelaksanaannya
memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah,
waktu, maupun kemampuan, dan latar belakang anak.
3.
Prinsip Kontinuitas, yaitu
kesinambungan. Perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara
berkesinambungan, tidak terputus-putus. Oleh karena itu, pengalaman belajar
yang disediakan kurikulum hendaknya berkesinambungan, yaitu dari kelas satu
sampai kelas tiga.
4.
Prinsip Praktis, mudah dilaksanakan,
menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya juga rumah. Prinsip ini disebut
juga prinsip efisiensi.
5.
Prinsip Efektivitas. Keberhasilan
kurikulum baik secara kuantitas maupun kualitas harus diperhatikan. Karena
keberhasilan kurikulum akan memengaruhi keberhasilan pendidikan
