twitter
rss


Sekolah formal umumnya belum mampu memberikan suasana yang aman, nyaman, menyenangkan, dan menggairahkan bagi para peserta didik untuk mengembangkan bakat, minat, dan potensi pribadinya secara optimal. Metode konvensional yang diterapkan pada sekolah formal cenderung memperlakukan beragam karakteristik siswa secara seragam. Setiap anak diberi materi yang sama tanpa mempertimbangkan minat si anak, sedangkan materi yang menjadi minat si anak justru tidak diberikan secara memadai. Materi yang diberikan pun kurang aplikatif jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari si anak hingga ia dewasa. Apa yang telah dipelajari anak di sekolah pun cepat sekali dilupakan. Materi-materi yang dihafal anak akan mudah hilang setelah ujian selesai. Akibat metode pembelajaran yang seperti inilah maka dihasilkan lulusan-lulusan yang kurang mampu untuk mandiri, kurang kreatif serta menjadi beban dalam masyarakat. Misalnya, susah mencari kerja karena apa yang anak pelajari di sekolah tidak terpakai di dunia kerja.
Hal tersebut senada dengan Y.B. Mangun Wijaya atau lebih dikenal dengan sebutan “Romo Mangun” (dalam Dodi dan Andi Suwirta, 2011: 176) yang berpendapat bahwa pendidikan dasar yang dilaksanakan saat ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Pendidikan dalam konteks ini belum dapat membuat anak-anak survive dan independen. Oleh karenanya tidak heran apabila terjadi pengangguran intelektual, karena para lulusannya lebih cenderung untuk mencari pekerjaan ketimbang berkreasi membuat lapangan kerja atau berwirausaha sendiri.
Melihat adanya kelemahan-kelemahan yang ada di sekolah formal maka munculah berbagai macam sekolah alternatif. Ada yang berbasis semi formal, sekolah alam, atau home schooling.  Beberapa contoh sekolah alternatif, yaitu sekolah alternatif Qoryah Thayibah di Salatiga, home schooling Kak Seto, Sanggar Akar, sekolah alam, Argowilis di Cilongok Banyumas, dan Kandank Jurank Dik Doank. Proses pembelajaran di sekolah-sekolah tersebut umumnya lebih santai dan menyenangkan bagi anak didik. Anak-anak dapat belajar sesuka hatinya, dengan gaya belajar masing-masing yang unik. Kurikulum disusun sedemikian rupa sehingga anak tidak bosan untuk belajar.
Sekolah Swadaya selama beberapa tahun telah mengkompromikan kepentingan anak-anak yang memiliki minat luar biasa pada keolahragaan dengan kepentingan mereka akan masa depannya setelah masa emas prestasi berakhir. Kita tahu bahwa tidak sedikit olahragawan yang berprestasi nasional bahkan internasional terpuruk kehidupannya setelah eksistensinya sebagai atlet memudar. Sekolah Swadaya memberikan layanan alternatif pembelajaran di tengah kesibukan atlet-atlet muda ini menggeluti program latihan yang intensif.

0 komentar:

Posting Komentar